Dosen UNIVERSITAS INDONESIA: Rasanya yang diharamkan Islam bukanlah HOMOSEKS ?


Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC) merupakan kelompok pendukung dalam berbagai masalah seksual, termasuk lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Dalam beraktivitas, kelompok SGRC ini turut memakai nama UI.

SGRC sendiri didirikan oleh mahasiswa dan alumni UI sejak 2014 lalu oleh Ferena Debineva. Mengutip website SGRC, Kamis (21/1/2016), SGRC merupakan organisasi mahasiswa di UI yang bergerak dalam bidang kajian pemikiran. Misinya, memberikan pemahaman yang lebih mendalam serta menyeluruh khususnya pada permasalahan gender serta seksualitas.

SGRC bertekad, memberikan lingkungan yang aman bagi komunitas mereka serta bisa mengembangkan program yang berhububungan dengan seksualitas, reproduksi serta orientasi seksual. Mereka juga mengupayakan fasilitas serta infrastruktur dalam memberikan informasi dan pelayanan mengenai masalah reproduksi serta seksualitas.

Setiap dua minggu sekali, anggota SGRC menyelenggarakan arisan. Di forum ini, mereka berdiskusi membahas beragam topik terkait gender dan seksualitas. Pegiat SGRC mengklaim, mereka membahas seksualitas apa adanya, tanpa tabu dan menggunakan berbagai dalil akademis seperti psikologi, sosiologi dan antropologi.

Tidak hanya itu, SGRC juga kerap menggelar seminar terkait dua bahasan tersebut. Bahkan, anggota SGRC menjadi tempat curhat bagi orang yang bermasalah dalam urusan orientasi seksual dan bias gender.

Website SGRC juga menampilkan berbagai tulisan para anggotanya mengenai seksualitas, gender dan berbagai masalah yang menyertainya. SGRC juga rutin berkampanye melalui media sosial.

Keberadaan kelompok pendukung isu orientasi seksual sendiri masih amat langka di Indonesia, namun cukup marak di berbagai negara. Isu orientasi seksual seperti LGBT menyeruak ke permukaan setelah pemerintah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis.



Sementara itu, di waktu yang bebrbeda, pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ade mengomentari fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender), yang belakangan marak muncul secara terang-terangan menyusul Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat 26 Juni 2015 untuk melegalkan pernikahan sesama jenis.

Ade mempertanyakan sejumlah pihak yang memprotes keras komunitas homoseksual. Bahkan, dia menyatakan Allah SWT tak mengharamkan seseorang menganut homoseksual.

"Kalau dipelajari, rasanya yang diharamkan dalam Islam bukanlah homoseksualitas tapi perilaku seks sodomi," tulis Ade seperti dikutip merdeka.com dari akun facebook-nya, Senin (6/7).

Komentar Ade juga dituangkan dalam sebuah situs Islam online berjudul: Soal LGBT: Yang Dilarang Islam Homoseksual atau Sodomi? Menurut Ade, ada kajian yang menunjukkan bahwa persepsi agama mengutuk LGBT itu salah, berlebihan dan diterima sebagai kebenaran hanya karena sikap generasi terdahulu mengutuknya.

Mengutip salah satu ilmuwan Islam terkemuka yang pernah secara kritis mempertanyakan doktrin yang mengharamkan Gay, Prof. Dr. Musdah Mulia, Ade menulis, pertama tidak ada satupun ayat Al-Quran yang mengharamkan LGBT. Kedua, ayat-ayat yang selama ini digunakan sebagai rujukan pengharaman LGBT adalah ayat-ayat Al-Quran yang bercerita tentang azab Allah SWT terhadap umat Nabi Luth (al-Naml, 27: 54-58; Hud, 11:77-83; al-Araf, 7: 80-81; al-Syuara, 26:160-175).

Ade mengatakan, kaum tersebut digambarkan sebagai kaum yang melakukan pembangkangan dan kedurhakaan, termasuk perilaku seks yang di luar batas dan keji. Memang ada ayat yang mengesankan bahwa salah satu perilaku seks yang dihujat oleh Nabi Luth adalah perilaku seks gay. Namun dalam tafsiran Musdah, sangat mungkin yang sebetulnya dihujat sebagai perbuatan keji tersebut bukan perilaku seks sesama jenis melainkan praktek sodomi (yang diwakili oleh misalnya istilah al-fahisyah dalam al-Araf, 7:80).

Postingan terkait: