Syeh Al Qarni,Penulis Buku LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH) :“Seandainya Dari Dulu Saya Mengunjungi Indonesia….”


ISLAMSEJATI.com - Siang nan panas itu suasana tak biasa meliputi Masjid Istiqlal, Jakarta. Ribuan umat Islam datang lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Di lantai 2 ruang shalat utama, para jamaah sudah memadati shaf-shaf hingga melimpah ruah. Padahal, waktu shalat belum juga tiba.




Ketika jarum jam dinding dekat mihrab menunjukkan jelang pukul 12.00 WIB, kumandang azan pun membahana. Tak seperti hari kemarin, kali ini azan dikumandangkan sebanyak dua kali. Maklum, saat itu mulai berlangsung pelaksanaan khutbah dan shalat Jumat.

Sebenarnya, ada lagi yang membuat Istiqlal terasa berbeda dibanding hari dan pekan sebelumnya. Jumat, 18 Rabiul Awwal 1436 H itu, para jamaah kedatangan tamu istimewa dari luar negeri.

“(Yaitu) pejabat pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan memberikan sambutan setelah shalat Jumat,” ujar salah seorang pengurus masjid mengumumkan, sesaat sebelum muazin menjalankan tugasnya.

Pejabat yang dimaksud adalah Syeikh Dr Aidh Abdullah al-Qarni. Penulis buku terkenal La Tahzan ini kembali mengunjungi Indonesia. Salah satu agendanya ialah mengisi ceramah di Masjid Istiqlal.

Usai rangkaian Jumatan bersama ribuan jamaah dan rombongan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Aidh al-Qarni segera maju dari shaf pertama. Ia lalu duduk di balik podium kecil yang disiapkan khusus, didampingi Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Musthofa Ya’qub.

“Ini kunjungan beliau ke Indonesia yang ketiga kalinya,” jelas Kiai Ya’qub sebagai pengantar acara, lalu mempersilahkan Aidh al-Qarni berbicara.

Bukan La Tahzan?
Tampil dengan seragam kebesaran khas pejabat Arab Saudi, sang syeikh pun memulai sambutannya dengan mengapresiasi bumi Nusantara. Ia mengaku sangat terkesan dengan Indonesia. Masyarakat di negara ini ia nilai sangat ramah, baik, dan berakhlak.

“Betapa saya bangga dengan warga Indonesia yang terkenal dengan kemurahannya, yang terkenal dengan akhlaknya, karena ucapan yang baik merupakan sedekah, senyum adalah sedekah. Dan itulah yang saya dapatkan dari masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Saking terkesannya, ia mengungkap, kekagumannya dengan Indonesia hampir bisa mempengaruhi buku fenomenalnya, La Tahzan (Jangan Bersedih!), yang terkenal seseantero dunia itu.

“Kalau seandainya saya mengarang buku ini setelah berkunjung ke Indonesia, barangkali judulnya akan lain. Saya melihat di negeri ini sangat indah, dengan airnya, dengan kehijauannya, dan dengan keramahan dari wajah-wajah bapak-bapak dan masyarakat Indonesia secara umum,” paparnya di depan para jamaah yang berkerumun membentuk setengah lingkaran.

Pujian itu membuat kebanyakan jamaah tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Sebab Aidh al-Qarni mungkin bermaksud mengatakan, judul La Tahzan tidak cocok bagi masyarakat Indonesia yang ia rasa begitu menggembirakan dan seakan tanpa kesedihan.



Pria kelahiran Arab Saudi tahun 1379 H (1960 M) ini pun menjelaskan alasan pemilihan judul La Tahzan . Judul itu terinspirasi dari momen sejarah, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar ash-Shiddiq memasuki Gua Hira. Sebelum mereka berhijrah ke kota Yatsrib (Madinah al Munawwarah) itulah Allah mewahyukan “Laa Tahzan…” kepada Nabi Muhammad.

“(Judul) La Tahzan itu diambil dari al-Qur’an, di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Janganlah bersedih!’,” jelasnya.

Dalam ceramahnya yang berapi-api, Aidh al-Qarni lebih banyak menyampaikan kiat-kiat meraih kebahagiaan. Di antara kiatnya, selain beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, adalah bersabar. Penyampaian itu dia intisarikan dari buku La Tahzan yang terbit pertama kali pada tahun 2001 (Dar Ibnu Hazm: Beirut).

Seakan terhipnotis, para jamaah pun tetap sabar mengikuti kajian agama yang disampaikan Aidh al-Qarni selama 1 jam kurang 15 menitan itu. Jelang menutup tausiyahnya, ia kembali melontarkan pujian dan apresiasi terhadap Indonesia.

Saat itu, sebagian kecil jamaah tertawa mendengar penyampaian Aidh al-Qarni. Sementara kebanyakan jamaah hanya melongo menatap ke arahnya. Wajar saja, sebab pembicara menggunakan bahasa Arab. Mereka yang tertawa tentu hanya yang paham bahasa asing ini. Sedangkan mereka yang tidak mengerti, hanya bisa bersabar menanti terjemahan dari seorang pria di samping kiri Aidh al-Qarni. Mereka penasaran, apanya sih yang lucu.

Rupanya, seperti yang dibahasaindonesiakan oleh penerjemah, Aidh al-Qarni tengah khawatir akan keramahan masyarakat Indonesia. Kok bisa?

“Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak-bapak, ibu-ibu sekalian yang ada di (Istiqlal) sini, dan juga kepada masyarakat Indonesia yang begitu ramah sekali setiap saya berkunjung ke sini. Baik itu kepada orang yang berkunjung sebagai wisatawan, ataupun dengan maksud-maksud tertentu datang ke sini,” ujarnya.

“Oleh karena itu,” ia melanjutkan, “banyak di antara saudara-saudara kita di Arab Saudi berkunjung ke sini, kemudian tidak pulang lagi. Saya khawatir, dengan keramahtamahan Anda ini, jangan-jangan (membuat) masyarakat ataupun saudara-saudara kita yang ada di Arab Saudi banyak ke sini dan tidak kembali lagi ke sana.” Segenap jamaah pun tertawa mendengarnya.

Acara lantas ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin Aidh al-Qarni. Sambil menundukkan pandangan dan mengangkat kedua tangan, ia mendoakan kebaikan bagi umat Islam se-dunia. Seperti Palestina, Yaman, Suriah, dan negara-negara Muslim lain yang tengah dirundung berbagai ujian dan kesedihan.

Penulis:Muh. Abdus Syakur
http://www.hidayatullah.com/feature/read/2015/01/10/36502/seandainya-la-tahzan-saya-tulis-setelah-mengunjungi-indonesia.html

Postingan terkait: