Kisah Sandera Abu Sayyaf - Mengaku Muallaf Demi Keselamatan



ISLAMSEJATI.com- Keheningan senja robek. Di anjungan kapal, Alfian Elvis Repi melihat satu kapal kecil berjarak 8 kilometer mempercepat lajunya, mendekat. Ia lari menuju kamar kapten bernama Peter Tonsen Barahama. "Ada polisi Filipina," kata Alfian, sang mualim yang sore itu piket, memberi tahu Peter.

Alfian ternyata salah. Mereka bukan polisi. Dalam hitungan menit, delapan orang yang berteriak-teriak dari kelompok Abu Sayyaf sudah menaiki kapal. Mereka menutup muka dan hanya memperlihatkan mata dan bibir saja. Pembajakan.

Waktu itu kapal tunda Brahma 12, yang diawaki Alfian dan 9 rekannya, sedang dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan. Kapal bermuatan batu bara itu memulai pelayaran 15 Maret, dan dibajak 11 hari kemudian di perairan Tawi-Tawi.

Para sandera kemudian diikat dan disuruh membalikkan badan sambil ditodong kepalanya dengan senapan M16 dan Avtomat Kalashnikova 1947. "Sebelum turun mereka menulis Jumong Group Abu Sayyaf di papan tulis kapal," ujar Alfian.

Alfian dan 9 temannya kemudian dibawa masuk ke dalam hutan dengan 40-an anggota Abu Sayyaf secara acak berjam-jam sampai jatuh gelap, setiap hari. Itu taktik mereka menghindari tentara Filipina.

Abu Sayyaf adalah kelompok milisi Islam garis keras yang bermarkas di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao. Kelompok ini meminta uang tebusan 50 juta Peso Filipina atau sekitar Rp15 miliar.

Kelompok itu, menurut Alfian, memiliki persenjataan lengkap. Selama disandera, ia terbiasa melihat senapan M14, M16, AK-47, granat genggam, bahkan peluncur roket berbaring di paha sang penyandera yang sedang duduk. "Tapi mereka (penyandera) memperlakukan kami dengan baik," ujarnya.

Hanya mereka tak bebas ke mana-mana. Kalau awak kapal kabur, para penyandera mengancam akan menelanjangi dan mengikat sandera di pohon. "Sandera akan dikasih semut dan didiamkan hingga mati," tutur Alfian yang sudah 11 tahun menjadi mualim di berbagai perusahaan.

Setelah lebih dari sebulan akhirnya dia dan mualim lain dibebaskan. Beredar rumor sandera dilepas karena uang tebusan. Beberapa pihak yang mengaku terlibat juga malah saling klaim: kelompok Surya Paloh dan Kivlan Zen, salah satu anggota tim negosiator. "Saya tidak tahu menahu soal (klaim) itu," katanya.

Sekarang, seminggu pasca dia dilepas, senyuman terus menghiasi wajahnya. Kepada Fajar WH, Yandi Mohamad, Heru Triyono, dan fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id pada Selasa siang (10/5/2016), Alfian bicara terbuka soal drama, trauma, serta ganti agama, selama disandera.



Selama wawancara dia ditemani dua putrinya, Zefanya Gloria (1 tahun) dan Fiola Felesia (3 tahun), di rumahnya Jalan Swasembada Barat XVII nomor 25, RT 03/03 Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Berikut petikannya:

Siapa yang pertama kali tahu kapal Abu Sayyaf mendekat ke Brahma 12...
Saya sendiri, karena sedang piket di anjungan. Saya lihat ada kapal kecil yang mendekat. Suasana sore itu sunyi, ombak memang lagi tenang.

Saya kemudian lari ke kamar kapten (Peter Tonsen Barahama) untuk beri tahu ada kapal mencurigakan. Semula saya duga mereka polisi Filipina, ternyata bukan. Kapten bilang, kapal jangan berhenti. Tapi, dalam hitungan menit mereka sudah naik.

Sebelum mereka naik, kenapa tidak berupaya kabur saja?
Kecepatan kapal kami cuma 13 knots (1 knots=1,85 kilometer per jam). Sementara speedboat mereka rata-rata 30 knots. Lagi pula lambung kapal kami itu rendah, sehingga mereka mudah untuk naik.

Ada berapa orang yang naik. Masih ingat ciri-ciri mereka?
Delapan orang. Rata-rata kurus, rambut panjang--memakai penutup muka, hanya memperlihatkan mulut serta mata saja. Mereka memakai bahasa Inggris, ada juga yang Melayu dan Tagalog.

Senjata yang mereka bawa itu seperti M14, M16, AK47, granat, pokoknya lengkap. Saya tidak pernah melihat persenjataan selengkap itu.

Tapi bagaimana Anda yakin bahwa itu anggota Abu Sayyaf, bukan perompak biasa?
Saat masuk kapal mereka melafalkan kalimat la ilaha illallah. Mereka juga teriak dari Abu Sayyaf. Dan sebelum turun dari kapal mereka sempat menuliskan kalimat Jumong Group Abu Sayyaf dalam huruf latin di papan tulis kapal. Mereka sepertinya ingin kasih tanda.

(Dikutip dari The Philippine Star, Juni 2014, Jumong adalah seorang nama pemimpin grup salah satu faksi Abu Sayyaf. Nama asli Jumong adalah Jerry Intimani. Dia memang berbasis di kawasan Filipina selatan, utamanya wilayah Sulu).

Ketika itu adakah kesempatan bagi awak kapal untuk melawan?
Kalau kita bisa lawan, kita akan lawan. Tapi persenjataan mereka lengkap, ya sudah pasrah saja. Kami sepakat untuk tidak melawan karena mau kabur juga percuma.

Perairan Tawi-Tawi adalah sarang mereka. Rata-rata pelaut tahu perairan itu rawan. Selama 11 tahun saya jadi pelaut baru sekali saya lewati jalur itu dan apesnya kena bajak.

Di atas kapal Brahma 12 tidak ada senjata?
Tidak ada.

Sebenarnya bagaimana prosedur dari perusahaan PT Brahma International jika kapal kena bajak?
Harusnya menyalakan alarm dan memberi tahu lokasi, agar bisa dilacak sinyalnya. Tapi fasilitas itu belum ada.

Kenapa tidak memakai pengawalan militer atau polisi di atas kapal?
Keberadaan tentara di atas kapal sama saja menyerahkan diri. Pasti mereka (Abu Sayyaf) menembaki.

Saya lebih setuju dikawal dengan kapal perang. Sudah pasti mereka berpikir dua kali untuk menyerang.

Target yang mereka incar sebelumnya juga lolos karena dikawal kapal perang.

Maksud Anda target utama mereka bukan Brahma 12?
Mereka ini salah target, karena targetnya sudah lolos. Saya tidak tahu targetnya siapa.

Mereka cerita, ketimbang lama menanti selama 13 hari di atas laut dan tidak ada hasil, mereka pun membajak kami. Mereka tidak mengincar batu bara, melainkan orangnya.
Setelah kapal dibajak kalian dibawa ke mana?
Kita dibawa dengan speedboat selama 4 jam. Kemudian istirahat di sebuah pulau, lalu lanjut jalan lagi selama 8 jam.

Saat masuk pulau kami dibawa dengan kendaraan seperti tuk-tuk di Thailand, dan sekita 40-an anggota Abu Sayyaf sudah menunggu ketika kami datang.

Kami diajak berjalan kaki ke sebuah rumah besar yang setengah rusak. Di rumah itu kami hanya tinggal lima hari, selebihnya jalan-jalan di hutan.

Kapal Brahma 12 ditinggalkan begitu saja di laut?
Ya, dibiarkan begitu saja. Mereka cuma ambil alat navigasi kapal, sama barang-barang kita semua. Laptop, sepatu, celana, telepon.

Gue hitung-hitung sih memang kurang dari Rp20 juta. Tapi lumayan lho merek laptop gue itu Sony Vaio, sementara sepatu Nike itu gue beli Rp 1,9 juta. Mana belinya diam-diam dari istri ha-ha-ha ... eh, hilang juga.

Sekarang di mana keberadaan Brahma 12 itu, Anda tahu?
Saya dapat kabar kalau kapal itu berada di Tarakan, Kalimantan Utara. Sudah diamankan.

Apakah di rumah besar yang Anda maksud itu menampung sandera lain juga?
Tidak ada, hanya kami 10 orang. Saya tidak tahu juga rumah besar itu milik siapa. Sepertinya si penghuni disuruh pergi dulu, sementara kami tinggal di sana.

Artinya tidak pernah berjumpa dengan sandera lain Abu Sayyaf?
Enggak. Tapi penyandera sempat kasih tahu ke kami bahwa sandera asal Kanada akan dipenggal tanggal 25 Maret jam tiga sore. Penyebabnya, uang tebusan salah sasaran. Intinya duit itu tidak tembus ke mereka. Makanya sandera itu langsung dieksekusi.

Anda dan sandera lain memang aktif berkomunikasi dengan Abu Sayyaf sehingga tahu jadwal pemenggalan yang mereka lakukan itu...
Jarang. Hanya kalau kita sedang diam, seperti tak ada gairah, mereka mendatangi dan memberi semangat. Mereka bilang sabar saja, jangan khawatir. Tapi mereka berkomunikasi tanpa melepas penutup mukanya, termasuk saat sedang makan.

Pasokan makanan itu berasal dari mana, sementara mereka dan sandera terus bergerilya di hutan?
Ada warga dari kampung sekitar hutan yang membawakan. Komunikasinya lewat pesan singkat. Mereka membawa nasi bungkus atau mi instan. Kami makan sekali atau dua kali dalam sehari, selama di hutan.

Tapi pernah suatu hari kita tidak minum sama sekali, karena di sana sulit air. Bahkan mandi saja sulit, karena sungai begitu jarang. Sebab itu sekalinya menemui sungai saat jalan-jalan, saya langsung mandi, dan saya yakin ikan lelenya mati terkontaminasi.

Kapan biasanya jalan bergerilya keluar-masuk hutan?
Seringnya malam. Jalannya berbatu dan berbukit. Saya melihat ada pohon mangga, kelapa dan durian, tapi tidak melihat adanya pertanian sama sekali semacam jagung atau singkong. Tanah mereka tandus.

Kalau tidur kami memakai daun kelapa yang kering. Untungnya saya berpengalaman bekerja di hutan Papua dan Bintan. Jadi, kalau soal nyamuk hutan ya cukup terbiasa lah, dan rasanya sudah kebal. Apalagi saya tinggal di Priok, tempat segala jenis nyamuk berada.

Ketika disandera, Abu Sayyaf mengizinkan Anda berkomunikasi dengan keluarga?
Boleh, saya dua kali menelpon istri. Mereka pengertian dan memperlakukan saya dengan baik.

Apakah karena Anda orang Indonesia?
Mereka sih bilang begitu, dan tahu Indonesia itu mayoritas muslim. Kalau sandera dari negara lain mereka akan ikat dan pukul.

Kami diikat hanya dua jam saja ketika di kapal. Setelahnya ikatan dilepas. Tapi jangan coba ada yang lari atau melawan, pasti ditembak.

Abu Sayyaf sempat bertanya soal agama?
Nah, itu mukjizat juga. Ketika di kapal, pertanyaan itu muncul, namun hanya ditanyakan pada tujuh orang yang kebetulan muslim semua. Kami bertiga non muslim malah tidak ditanya.

Kemudian, di pulau pertama yang kita singgahi semua mualim dan kapten sepakat bahwa yang beragama Kristen dibilang mualaf dan yang bujang dibilang sudah menikah. Biar aman. Kalau belum menikah khawatirnya nanti diajak jadi pengikut.

Bagaimana jika para penyandera mengkonfirmasi status menikah dan agama itu?
Itu juga yang bingung. Biasanya kami bilang, tanya langsung saja ke orangnya bro.

Anda pernah diajak salat?
Pernah. Saya bahkan jadi hafal tata caranya. Mereka ini salat tiga kali dalam sehari. Subuh, kemudian Zuhur yang dijamak sama Asar, kemudian Magrib yang dijamak dengan Isya. Sempat mereka meminta saya jadi imam. Saya kaget, dan bilang ,"saya tidak bisa bro". Mereka kemudian tertawa.

Kok bro, mereka memanggil bro?
Iya mereka memanggil dengan bra-bro saja. Kita juga memanggil mereka bro. Kayak begitulah komunikasinya. Tapi ada pesan yang saya ingat dari mereka,"jangan setengah-setengah kalau masuk Islam, harus full". Sepertinya mereka melihat saya salatnya masih blepotan.

Jika bosan di hutan mereka akan melakukan apa, bermain domino atau kartu remi?
Oh mereka anti, karena itu berbau judi. Jadi tidak ada mainannya. Kayak orang bego, diam saja. Karena diam itu terkadang saya ingat istri dan dua anak saya. Apalagi tanggal 28 April saya masih di hutan. Tanggal itu adalah ulang tahun pernikahan saya yang keempat.

Mereka pernah cerita dalam kondisi apa mereka akan membunuh para sandera?
Tidak bilang. Tapi mereka memberi tahu kalau ada sandera berupaya kabur maka akan diikat di pohon, kemudian ditelanjangi dan dikasih semut. Tidak usah capek-capek pakai senjata.

Jadi selama bersama sandera mereka tidak pernah memakai senjatanya?
Mereka hati-hati. Kalau dipakai, suara itu akan terdengar oleh militer Filipina, yang dalam perkiraan mereka jaraknya hanya 5 kilometer saja dari lokasi mereka gerilya. Militer kan sedang operasi terus di sana.

Tak ada baku tembak dengan militer Filipina selama di sandera?
Kalau ada kita tidak akan selamat. Abu Sayyaf yang kawal kita ada 40an orang. Sementara tentara Filipina sekitar 2000 orang dalam operasinya. Yang pasti, baku tembak itu ada, tapi bukan di group Abu Sayyaf yang pegang kita.

Mereka takut adu kontak dengan militer Filipina?
Mereka bukan takut. Sandera Kanada saja dipenggal dengan gampang, apalagi kita. Tapi, mereka bilang, kalau satu sandera dari Indonesia meninggal, mereka takut akan menambah musuh dari Indonesia. Karena, meski sandera yang menembak itu militer Filipina, pasti yang tersebar di publik, Abu Sayyaf yang melakukannya.
Dalam proses negoisasi biasanya siapa yang mewakili sandera?
Yang saya tahu kapten, kemudian pihak dari kantor yang terhubung langsung dengan mereka lewat telepon.

Jadi, perjanjian awalnya itu, Abu Sayyaf mau uangnya dulu dikirim baru kita dibebaskan. Tapi kantor ingin lepaskan dulu satu sandera, karena ingin ihat keadaan salah satu dari kami. Baru uang diberikan.

Ketika itu sudah sepakat uang tebusan sekitar 50 juta peso akan diberikan tanpa perantara.

Yang Anda tahu uang itu sudah diberikan ke Abu Sayyaf?
Tidak jadi. Karena kemungkinan besar uangnya masih ada di kantor. Dan, selama disandera kita tidak pernah melihat uang.

Kenapa dalam negoisasi akhirnya tidak memakai uang sebagai tebusan?
Kabarnya karena ada pihak Pemerintah Indonesia yang sudah masuk, sehingga perusahaan saya tidak jadi menebus.

Maksudnya uang pemerintah sudah masuk ke mereka?
Bukan. Orang dari pemerintah kita ternyata ada yang bertemu dengan mereka untuk negoisasi soal pembebasan. Tapi Abu Sayyaf tidak memberi tahu siapa orang dari pemerintah itu.

Kapan Anda tahu akan dibebaskan?
Saya tahu ketika berada di atas perahu di hari pembebasan. Salah satu penyandera bilang, "maybe this day all of you go to Indonesia".

Pernah bertemu dengan pihak negosiator dari Indonesia?
Saya tidak tahu siapa negosiatornya. Yang pasti kami bertemu dengan wartawan Metro TV di pulau tempat kita dilepas, sekitar satu kilometer dari tepi pantai.

Dalam tiga menit, kami diangkut lagi ke mobil oleh orang yang mengaku bernama Rauf, untuk diantar ke rumah Gubernur Sulu (Toto Tan).

Ketika itu masih ada pengawalan dari Abu Sayyaf?
Sudah tak ada lagi. Mereka terakhir mengawal saat di atas perahu. Itu pun hanya lima orang.

Sesudah berlabuh di pulau, kami hanya dengan dua orang: satu sopir dan penunjuk jalan. Kami mengira akan dijual lagi ke kelompok lain. Syukurnya tidak.

Di rumah gubernur kami bertemu dengan Arnel Dela Vega (Komandan Pasukan Bersenjata Filipina) dan Wilfredo Cayat (Kepala Kepolisian Sulu).

Oleh Cayat dan Dela Vega kami diantar mobil tentara ke klinik marinir untuk dicek kesehatannya. Dengan helikopter kami kemudian langsung terbang ke Zamboanga. Di situlah saya jumpa Pak Victor (Victor Bangtilu Laiskodat dari Fraksi Partai Nasdem yang merupakan tim kemanusiaan Surya Paloh -- red.).

Ada perwakilan dari pemerintah saat di rumah gubernur?
Tidak ada perwakilan dari Indonesia. Justru kami ngobrol dengan gubernurnya itu. Dia bertanya soal lokasi penyanderaan dan berapa jumlah Abu Sayyaf. Ya kita jelaskan.

Dari Zamboanga, kami kemudian dipulangkan ke Indonesia menggunakan pesawat Tim Kemanusiaan Surya Paloh.


Di Zamboanga Anda bertemu negosiator pembebasan sandera Kivlan Zen?
Tidak, saya hanya bertemu Pak Edi dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia).

Apakah ketika dilepas Abu Sayyaf, ada barang yang dikembalikan?
Enggak ada. Hanya baju di badan.

Trauma dengan insiden penyanderaan ini?
Saya mau istirahat selama dua bulan. Kalau kantor meminta saya lewat perairan itu (Tawi-Tawi) lagi saya carikan mualim lain untuk berangkat, he-he... Saya mau menikmati kebebasan lebih dulu.

Seperti bebas dari ancaman kematian ya?
He-he.... Saya sih tak peduli jika mati di Indonesia, karena mayat saya pasti dijamin sampai ke rumah. Nah kalau mati di sana (Filipina), kan belum tentu.


Sumber:https://beritagar.id/artikel/bincang/sandera-abu-sayyaf-alfian-saya-tak-peduli-jika-mati

Postingan terkait: