Kisah Orang Jawa Bawa Islam ke Thailand


INDOSEJATI- Prasasti dari batu pualam berwarna hitam itu terdiri dari tiga bahasa. Thailand, Arab dan Inggris. Tulisannya Jawa Mosque atau Masjid Jawa. Yang istimewa, letaknya bukan di Pulau Jawa, tapi di Sathorn, salah satu kawasan utama Kota Bangkok.

Jangan heran, yang mendirikan Masjid ini memang orang-orang keturunan Jawa di Thailand. Awal kedatangan mereka adalah pada masa pemerintahan Raja Rama IV, sekitar tahun 1985-1968. Mereka mengadu nasib sebagai pedagang atau buruh.

Komunitas awal orang-orang Jawa itu tinggal di Bangrak, Sathorn dan Kokkrabue. Nah, pada masa Raja Rama V (1853-1910), orang-orang Jawa dipekerjakan untuk membangun taman di Istana Kerajaan Thailand. Mereka juga bekerja membangun kanal dan gedung-gedung pemerintahan. Mengalirlah imigran dari Jawa ke Siam.

Raja Thailand mengizinkan komunitas Jawa mendirikan masjid. Lokasinya sempat berpindah-pindah. Tahun 1945, seorang saudagar bernama Haji Muhammad Sholeh bin Hasan mewakafkan tanah miliknya untuk mendirikan Masjid secara permanen. Berdirilah Masjid Jawa ini di tanah seluas 556 meter persegi.

Masjid mengambil gaya Semarang dengan atap limas bersusun. Untuk mengenang tanah asal mereka, masjid dinamakan Masjid Jawa. Tak cuma sarana peribadatan, masjid itu menjadi pusat kegiatan komunitas warga keturunan Jawa di Bangkok. Haji Muhammad Sholeh menjadi imam pertama Masjid Jawa.



Komunitas itu masih ada sampai kini. Hidup rukun dengan mayoritas warga Bangkok yang beragama Budha.

Jamilah (40), adalah salah satu di antaranya. Kakeknya berasal dari Jawa. Kini dia membuka sebuah penginapan bernama Song Thai Hotel. Letaknya sangat dekat dengan Masjid Jawa.

Song artinya rumah. Jadi arti namanya kira-kira Rumah Thai. Hotel miliknya terbuat dari kayu. Tamu menginap di lantai dua, sementara dia tinggal di lantai satu. Dia memasang beberapa keris dan tombak peninggalan sang kakek di hotel itu.

"Semua di sini awalnya dari Jawa. Kini sudah bercampur dengan pendatang yang masuk. Tapi mayoritas keturunan Jawa," kata Jamilah, Jumat (2/9) lalu.

Jamilah sendiri berdarah campuran Jawa, China dan Pakistan. Dia fasih berbahasa Melayu. Kalau Bahasa Jawa, hanya tahu satu atau dua kata saja.

Di Masjid Jawa, ada sebuah madrasah untuk anak-anak. Mereka mengaji lepas Magrib sampai Isya. Kalau pagi ada semacam taman kanak-kanak. Melihat anak-anak berlarian dengan baju koko dan peci putih, sungguh suasananya seperti di Pulau Jawa saja.

Selain Masjid Jawa, ada lagi masjid yang dibangun oleh keturunan Komunitas Jawa di sana. Masjid Ban Oou di kawasan Bang Rak tercatat sebagai masjid pertama yang terdaftar di Bangkok. Orang Thailand menyebutnya Surao Khaek.

Sejarah masjid ini cukup berliku. Sebenarnya Raja Rama VI telah memberikan lahan sebagai lokasi pembangunan masjid dan kuburan tahun 1912. Tapi saat itu status tanah milik lembaga atau organisasi tidaklah kuat.

Karena itu tanah itu sempat didaftarkan sementara atas nama Hadji Abdul Kadeh bin Hadji Muhammad tahun 1913, demi alasan legalitas. Hadji Abdul orang jujur, dia berjuang puluhan tahun mengirimkan surat ke berbagai instansi agar akta tanah bisa dikembalikan lagi menjadi milik Masjid Ban Oou, bukan miliknya.

Setelah melalui proses panjang, baru tahun 2003 pemerintah Thailand menyetujui akta tanah kembali menjadi milik Masjid Ban Oou. Haji Abdul sendiri tercatat sebagai imam pertama masjid pertama di Bangkok.

Sungguh, kisah ini bisa jadi teladan banyak orang. Betapa banyak pejabat tak jujur main-main dengan sertifikat. Tanah wakaf dijual demi keuntungan. Tapi Haji Abdul berjuang seumur hidupnya agar akta tanah kembali menjadi milik Masjid Ban Oou. Dia tak mau mengambil apa yang bukan haknya.


Sumber:https://www.merdeka.com/khas/kisah-orang-jawa-bawa-islam-ke-thailand.html

Postingan terkait: