Bertemu Syarikat Islam, Kapolri Jelaskan Ormas yang Ingin Rontokkan Negara



IslamSejati - DPP Syarikat Islam bertemu dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengklarifikasi penggalan pernyataannya dalam video yang viral mengenai soal hanya NU dan Muhammadiyah lah, yang berperan dalam mendirikan NKRI. Kepada Syarikat Islam, Tito juga menjelaskan mengenai penggalan pidatonya soal ormas yang ingin rontokkan negara.

"Kami bisa memahami tidak ada niat sama sekali seperti disampaikan oleh beliau. Untuk mengenyampingkan ormas-ormas yang lain dan untuk menyatakan ormas lain itu merontokkan negara. Sama sekali tidak," kata Ketua DPP Syarikat Islam Hamdan Zoelva seusai bertemu Kapolri di rumah dinasnya, Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jaksel.


Menurut Hamdan, maksud Tito soal ada pihak yang merontokkan negara ditujukan kepada kelompok takfiri dan radikal. Pidato Tito disebut telah dipotong-potong sehingga maksud yang disampaikan tak utuh.

"Dan yang dimaksud merontokkan negara itu adalah awal pembicaraannya yang berkenaan kelompok-kelompok takfiri. Yang kita tahu kelompok takfiri itu yang sangat radikal. Jadi tidak dimaksudkan ormas itu," ujarnya.

Namun, masih kata Hamdan, Tito tak menyebut secara jelas terkait kelompok tersebut. Hamdan hanya menjelaskan bahwa terminologi takfiri dan radikal itu selalu masuk dalam kajian keamanan.

"Kelompok takfiri itu sebenarnya belum, ada kelompok yang lebih keras lagi, radikal. Takfiri itu cenderung ke situ tapi tidak seluruhnya kelompok takfiri itu masuk ke radikal. Yang paling berbahaya itu tingkatan selanjutnya yaitu radikalisme. Itu yang sehenarnya yang merontokkan negara itu," ucapnya

Setelah mendengar penjelasan Tito, mantan Ketua MK itu meminta video lengkap pidato disampaikan ke publik agar masyarakat tercerahkan. Dia pun berencana untuk menjelaskan pernyataan Tito yang viral itu ke anggotanya di seluruh Indonesia.

"Itulah kami datang klarifikasi, tidak ingin memberikan pernyataan yang mengeruhkan suasana di luar. Kami minta klarifikasi dan memang kalau kita lihat dari penjelasan rangkaian pidato itu memang ada hal yang aneh. Karena itu kami bisa memahami kita menjaga kebersamaan kita, sebagai umat islam agar tidak diadu domba. Situasi mendekati pilkada serentak itu panas. Karena itu kami dapat memahami," imbuh Hamdan.

Selain itu, bila ada yang keliru dari pernyataannya, Tito juga akan menyampaikan permohonan maaf. Namun Tito tak bermaksud untuk mengesampingkan organisasi lain.

"Ya tadi kepada DPP Syarikat Islam kalaupun itu menyinggung atau apa, tapi tidak sama sekali dimaksudkan untuk itu. Kedua aDa yang terpotong kalau beredarnya itu ada yang merasa terganggu. Minta maaf. Tapi sama sekali viral tu terpotong-potong dan tidak menggambarkan yang utuh," ujar Hamdan. 


Sumber : detik.com

Postingan terkait: