Makna Imlek di Mata Tionghoa Muslim



IslamSejati.com - Warga Tionghoa merayakan Imlek atau Tahun Baru China. Imlek saat ini memasuki 2569 atau disebut juga Tahun Anjing Tanah.

Bagi etnis Tionghoa, Tahun Baru Imlek merupakan salah satu perayaan penting di mana pun mereka berada, termasuk Indonesia.

Perayaan Tahun Baru Imlek berjalan selama lima belas hari, yaitu sejak hari pertama bulan pertama, atau Cia Gwee, hingga tanggal 15 bulan pertama atau disebut dengan Cap Go Meh.


Etnis Tionghoa biasanya merayakan Tahun Baru Imlek dengan mengadakan bersih-bersih dan sembahyang di wihara.

Tak Ada Acara Khusus

Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei, Ali Karim, mengatakan Masjid Lautze yang berada di bawah pengelolaan yayasan yang dia pimpin tidak mengadakan acara khusus pada Tahun Baru Imlek. Walaupun, kebanyakan jamaah masjid yang berada di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu dari etnis Tionghoa.

"Kami mengadakan kegiatan yang sesuai dengan Alquran dan Hadis saja supaya nanti tidak menjadi kebiasaan," kata Karim seperti dikutip dari Antara, Jumat (16/2).

Ali mencontohkan sebagian masyarakat yang salah kaprah dalam memaknai kegiatan agama menjadi hal-hal yang menyimpang untuk ritual-ritual yang tidak diajarkan dalam Alquran dan Hadis, misalnya mencuci barang pusaka.

Ali tak memungkiri mengadakan acara memperingati Imlek tentu memiliki niat yang baik. 

Ali Karim Oei (kedua dari kanan) pemimpin yayasan Haji Karim Oei. 

Ajang Silaturahmi

Ali mengatakan Tahun Baru Imlek bagi warga etnis Tionghoa muslim bisa memanfaatkan momen hari ini untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang belum memeluk Islam.

Saat Tahun Baru Imlek, kata dia, biasanya keluarga-keluarga Tionghoa berkumpul. Tionghoa Muslim boleh saja ikut berkumpul untuk bersilaturahmi bersama-sama anggota keluarganya yang belum memeluk Islam.

Ali menegaskan warga etnis Tionghoa Muslim harus tetap menjalin silaturahmi dengan keluarganya yang belum memeluk agama Islam. Sebab, kata dia, silaturahmi adalah suatu hal yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

Dengan menjalin silaturahmi, katanya, etnis Tionghoa Muslim justru bisa melakukan syiar untuk menghilangkan pandangan-pandangan negatif umat agama lain terhadap Islam.

"Tunjukkan bahwa setelah memeluk Islam, hidup menjadi lebih baik. Berdakwah tidak harus dengan lisan, tetapi juga bisa dengan akhlak yang baik," tuturnya.

Menurut Ali, Imlek bukanlah perayaan agama. Sejarah Imlek dimulai Kaisar Wu dari Dinasti Han di China, setelah dinasti-dinasti sebelumnya gagal menciptakan sistem penanggalan yang bisa digunakan di seluruh China.

Salah satu warga Tionghoa yang baru memeluk Islam, Rully Djohan Subadha (36) mengatakan keluarganya masih merayakan tahun baru Imlek.  

Rully merupakan Tionghoa Muslim yang keluarganya masih merayakan Tahun Baru Imlek. Sejak 2003, dia telah menjadi mualaf dan mengikrarkan kalimat syahadat di Masjid Lautze.

Sebagai bagian dari keluarga Tionghoa, Rully mengatakan, dia pun ikut bergabung saat keluarganya berkumpul merayakan Imlek. Ia memandang Imlek sebagai warisan tradisi dan budaya, serta menjadi ajang untuk silaturahmi. Menurutnya Islam tidak datang untuk menghapuskan budaya yang sudah ada.

Satu hal lain yang dijaga Rully saat berkumpul dengan keluarga, kerabat, atau koleganya dalam perayaan imlek adalah soal makanan.

"Harus berhati-hati juga saat berkumpul dengan keluarga dan makan bersama karena mungkin ada makanan yang tidak halal bagi Muslim. Alhamdulillah, keluarga besar saya memisahkan makanan yang bisa saya makan atau tidak," kata dia.

Hal serupa juga dilakukan oleh Andi Suryadi (41), mualaf Tionghoa lain yang juga mengikrarkan keislamannya di Masjid Lautze. Andi yang memeluk Islam sejak 2001 itu pun mengaku masih berkumpul untuk memperpanjang tali silaturami dengan keluarga saat perayaan tahun baru Imlek.

"Bagi saya, Tahun Baru Imlek itu hanya perayaan tahun baru untuk berkumpul dengan keluarga. Bersilaturami seperti halnya saat Idul Fitri," tuturnya.

Sumber : cnnindonesia.com

Postingan terkait: