Cadar Merupakan Produk Budaya, Bukan Bagian dari Agama Islam



IslamSejati.com - Pusat Studi Hukum Islam (PSHI) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (PSHI FH UII) menilai, semangat dari kebijakan Rektor UIN Sunan Kalijaga yang melarang mahasiswi di kampusnya mengenakan cadar sebenarnya cukup baik. 
Tujuan kebijakan itu memberikan pemahaman kepada para mahasiswi yang bercadar, bahwa cadar hanyalah produk budaya dan bukan bagian dari agama Islam. Sebab memang ada pemahaman yang berkembang bahwa cadar adalah bagian dari agama Islam. 
"Jadi sebagai pendidik, memang sudah kewajiban rektor dan jajarannya untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang cadar terhadap anak didiknya. Jika paham seperti ini tetap dibiarkan, maka ajaran yang memperlihatkan wajah Islam yang kaku akan terus menyebar dan mengakar. Ini justru bertentangan dengan karakter agama Islam itu sendiri, yang dapat diterapkan di setiap zaman dan tempat (shalih li kulli zaman wa makan)," kata Sekretaris Eksekutif PSHI FH UII Ahmad Sadzali Lc MH dalam siaran pers yang dikirim ke berbagai media.

Menurut Ahmad Sadzai, tidak ada yang salah jika ada kalangan yang mengikuti pendapat beberapa imam mazhab fikih dalam menghukumi pemakaian cadar, misalnya mengikuti pendapat yang mensunnahkannya. Bahkan hal ini sangat dianjurkan sekali, terlebih untuk melindungi diri dari fitnah.
“Dalam kajian Usul Fikih, tidak semua yang hukumnya sunnah itu merupakan bagian dari agama. Sebagai contoh, berpakaian ala Nabi Muhammad SAW dengan memakai jubah dan sorban, atau memanjangkan janggut, jika diniatkan untuk mengikuti Nabi, maka akan mendapatkan pahala kesunnahan. Tapi pakaian dan janggut ala Nabi Muhammad SAW bukanlah bagian dari agama Islam. Bahkan Abu Zuhro di dalam kitab Usul Fikihnya mengatakan bahwa siapa yang menganggap pakaian atau janggut Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari agama Islam, maka hal ini merupakan bid’ah yang tidak ada di dalam ajaran Islam,” tutur Sadzali.
PSHI FH UII mencatat, pendapat tentang cadar bukan bagian dari agama Islam juga pernah disampaikan oleh almarhum Syaikh Ahmad Thanthawi (Mantar Grand Syaikh Al-Azhar) pada tahun 2009 silam. Menurut beliau, cadar hanyalah produk budaya yang sudah ada sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menganjurkan kepada siswi dan mahasiswi Al-Azhar untuk membuka cadar ketika berada di dalam kelas.
Anjuran Syaikh Thanthawi ini dapat dengan mudah dilaksanakan, mengingat Al-Azhar memisah antara kampus laki-laki dan perempuan. Dengan begitu tidak memberatkan siswi dan mahasiswi yang bercadar untuk melepas cadarnya, karena satu kelas dan satu kampus isinya perempuan semua.
Sayangnya, menurut Sadzali, kondisi kampus di UIN Sunan Kalijaga berbeda dengan kampus Al-Azhar. UIN Sunan Kalijaga masih menggabung kampus laki-laki dan perempuan. Dalam proses belajar mengajar di kelas pun demikian. Maka pada konteks inilah, kebijakan Rektor UIN Sunan Kalijaga tersebut menjadi kurang tepat.
Kebijakan tersebut tidak hanya menimbulkan diskriminasi di tengah mahasiswa, melainkan juga akan memberatkan mahasiswi yang bercadar. Di satu sisi mereka dipaksa untuk melepas cadar, namun di sisi lain pihak kampus tidak memberikan solusi bagi mereka yang memakai cadar untuk menghindarkan diri dari fitnah.
Karena itu, PSHI FH UII menghimbau, jika kebijakan larangan bercadar ini ingin diterapkan, maka sebaiknya UIN atau kampus manapun yang akan menerapkan kebijakan serupa, agar menunjangnya dengan kesiapan infrastruktur. 
“Kalau mau melarang cadar silahkan, tapi pisah dulu kampus antara laki-laki dan perempuan. Atau minimal kelas khusus perempuan yang bercadar, sehingga mereka beda membuka cadar. Baru ini adil,” imbau Sadzali.

Sumber : kumparan.com

Postingan terkait: